Tak disangka, saya (kembali) menulis mengenai bipolar disorder. Dan latar belakang penulisannya masih sama, atas dasar rasa yang tulus untuk seseorang.
Setiap kita pasti pernah merasa depresi atau euphoria dalam lingkaran hidup yang dijalani. Tapi tak semua orang memiliki kemampuan untuk menghadapi dua rasa yang jamak itu.
Trauma masa lalu, kemampuan memecahkan masalah, dan mekanisme kimiawi tubuh adalah unsur yang membantu kita berhasil melalui dua rasa itu atau justru sebaliknya. Dan bagi pengidap bipolar disorder, dua rasa itu adalah ‘beban’ yang harus mereka pikul seumur hidup.
Sebelum cerita banyak soal Bipolar Disorder, ada baiknya liat thriller film At the Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya). Ini film karya Paul Agusta, salah satu sutradara film indie yang berbakat.
Apa kesan yang timbul saat menonton film itu? Mendapat sedikit gambaran soal Bipolar Disorder atau justru memancing seribu pertanyaan tentang mahluk apakah Bipolar Disorder? Sebelum (berusaha) menjawab, saya ingin kasih gambaran bahwa film ini adalah pengalaman sang sutradara. Iya, Paul Agusta adalah pengidap Bipolar Disorder.
Film ini adalah diari visual dari perjalanan Paul ketika harus masuk sanatorium Dharmawangsa, Jakarta. Jujur saya belum berhasil menonton film ini secara full. Salah seorang sahabat saya yang sudah menonton, menyarankan saya untuk menyaksikan film ini ketika mendengar niat saya menulis soal Bipolar Disorder.
Saya sudah coba kontak Paul untuk mencari tahu apakah filmnya sudah dijual dalam bentuk CD atau DVD. Jawabannya, belum. Karena Paul harus merilisnya di Belanda terlebih dahulu. Sebab pemberi donor untuk membuat film ini asalnya dari negara kincir angin itu.
Tapi saya harus menulis tentang Bipolar Disorder, sebagai cara untuk menunjukkan kepedulian saya yang tulus pada seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya. Belakangan saya dapat info kalau dia semakin tenggelam dalam aura depresi, emosinya semakin gelap.
Saya, sedikit banyak bisa membayangkan apa yang terjadi. Karena waktu, pernah membawa saya untuk menemani dia menghadapi kelamnya rasa itu. Sama seperti ketika waktu juga menghampiri saya untuk ikut merasakan euforia yang dia rasakan ketika itu.
Tapi saat ini, situasi membuat saya hanya bisa membayangkan. Walaupun ketika saya mendengar ceritanya, tak bisa dipungkiri, hati kecil saya langsung bertanya apa yang bisa kita lakukan? Ternyata pundaknya terus membawa kayu bakar yang tak sekadar membebani tapi juga melukai kulitnya. Ah menuliskannya saja membuat saya deg-degan.
Hingga kemudian salah seorang sahabat saya menyarankan agar saya menulis kembali tentang Bipolar Disorder. Mari kita mulai pesan antara rasa dengan kepedulian ini.
Secara sederhana, bipolar disorder adalah kondisi mental di mana seseorang bisa dengan mudah mengalami euforia atau manic yang kemudian berganti wujud menjadi depresi. Secara biologis, perubahan emosi yang drastis ini terjadi karena adanya produksi hormon kortisol atau hormon stres berlebih dalam otak. Sehingga orang dengan Bipolar Disorder akan sangat mudah tenggelam pada aura depresi.
Salah satu literatur menyebutkan, banyak orang bipolar disorder yang juga mengalami chocolate craving. Sebab secara insting ketika tubuh kelebihan hormon depresi maka akan mencari makanan yang dapat menekan produksi hormon itu. Dan cokelat adalah makanan yang secara umum diketahui bisa meminta tubuh untuk mengeluarkan hormon relaksasi. Sama seperti ketika kita terlalu lapar, produksi insulin akan merosot dan membuat otak memerintahkan kita mencari makanan mengandung karbohidrat tinggi secara insting. Mengapa insting memilih makanan berkarbohidrat? Sebab ini adalah jenis makanan yang bisa dengan kilat menaikkan produksi insulin dalam darah dan kembali membuat kita berenergi.
Tapi sering kali pengidap bipolar disorder tidak tahu ada gangguan pada hormon mereka. Yang mereka mengerti, hidup adalah beban karena semua yang terjadi tidak pernah lepas dari nilai menyempurnakan keadaan. Itu mengapa ciri berikut dari pengidap bipolar disorder adalah perfeksionis. Karena sedikit kesalahan saja bisa menjadi pemicu bagi episode depresi. Bahkan tidak jarang kebahagiaan juga dianggap beban, karena yang mereka pikirkan bahwa kebahagiaan adalah tuntutan bagi mereka untuk menjalankan hidup dengan sempurna. Padahal mereka kesulitan mendefinisikan kesempurnaan karena rasa yang mereka punya hanyalah ketakutan, kegalauan, keterbatasan, dan kesendirian. Seperti yang diucapkan perempuan pada film At the Bottom of Everything, ” Hidup tanpa senja, tanpa fajar. Hidup dalam keterangan yang membutakan, dan kegelapan yang ditemukan, tak ada antaranya.”
Maka mereka akan sangat sering memikirkan kondisi terburuk bukan karena untuk mengantisipasi diri tapi lebih kepada melihat itu sebagai realitas sesungguhnya. Alhasil sebelum melakukan apapun, mereka akan panik dan menarik diri. Menyendiri adalah cara untuk menutupi ketakutan dari menghadapi yang akan datang.
Situasi yang gelap ini pada akhirnya hanya akan melukai diri sendiri. Sebab mereka tidak pernah percaya pada diri sendiri. Mereka jarang merasa bahwa dirinya bisa membuat dunia menjadi lebih baik. Dunia ini fana maka kita ikut menjadi bagian dari kefanaan. Depresi adalah periode kelam yang panjang bagi pengidap bipolar disorder.
Itu kenapa dalam filmnya, Paul bercerita, betapa pengidap bipolar disorder hanya akan jatuh, jatuh, dan jatuh. Karena mereka tidak pernah berhasil menyembuhkan luka dari tubuh (baca : diri mereka). Alhasil rasa kelam dan depresi itu ibarat tikus yang mengrogoti seluruh tubuh tanpa ampun. Menurut saya pemilihan tikus pada film Paul adalah metafora yang tepat. Sebab tikus adalah binatang pengerat yang hobinya menggrogoti apapun. Dan apabila dibiarkan, tikus bisa menyelinap ke kamar tidur kita untuk kemudian berkoloni di mana pun.
Pernah mencoba membunuh tikus? Kita gunakan perangkap, paling hanya berhasil beberapa kali. Sebab tikus salah satu mamalia yang mengalami proses belajar untuk bertahan hidup. Sebenarnya cara untuk membuat tikus malas bertandang ke rumah adalah dengan tidak menyediakan ruang bagi dia untuk merasa nyaman. Tapi rasanya sangat mustahil, sebab tikus juga bisa hidup di gorong yang paling jorok atau gelap sekali pun. Itu mengapa melalui analogi tikus, Paul coba menggambarkan pada titik tertentu, semua kita memiliki potensi untuk menjadi bipolar disorder.
Hanya saja pada orang yang berhasil menghapus potensi itu, mereka punya keberanian untuk menuntaskan kekelaman dengan cepat. Sedangkan bagi pengidap bipolar disorder, itu adalah tantangan terberat mereka. Selain karena masalah hormon, mereka sudah terbiasa untuk mengurung diri dalam kekelaman. Alhasil, mereka merasa digrogoti rasa gelap yang kemudian menjadi bagian dari diri mereka. Bagian dari eksistensinya. Padahal mereka hanya tidak tahu dan tidak berani menemukan cara membunuh rasa takut.
Rasa takut memang bukanlah hal yang menyenangkan. Itu adalah undangan untuk depresi. Dan saat mereka merasa tak ada lagi cara dari berhenti bertatapan dengan rasa takut, yang mereka pikirkan adalah mengakhiri hidup. Maka penelitian membuktikan 1 dari 5 pengidap bipolar memutus rasa takut dengan memotong jalan hidup. Ini juga yang menjadi salah satu ciri pengidap bipolar disorder, mereka sering berpikir mengakhiri kehidupan. Bahkan beberapa diantara mereka tak ingin menyimpan benda-benda tajam karena takut tergoda untuk menggunakannya ketika periode depresi datang menghampiri.
Tapi bukan hanya depresi yang menjadi tantangan bagi pengidap bipolar disorder. Ada emosi yang namanya manic, dimana semua yang terjadi akan diartikan dengan euforia yang berlebihan. Ini ditandai dengan memiliki energi berlebih, tidak bisa menyimpulkan satu ide dengan jelas karena pikirannya akan loncat dari satu topik ke topik lain tanpa terlihat garis besarnya, impulsif (keuangan, perasaan, tingkah laku), agresif, bicara terlalu cepat, sampai tidak bisa tidur.
Sebenarnya baik dalam keadaan depresi atau manic, pengidap bipolar akan sulit sekali untuk tidur di malam hari. Karena malam hari adalah hari terberat bagi mereka. Saat depresi, sepinya malam akan menjadi aura sempurna untuk menghitung beban yang dipikul. Dan ketika manic, malam akan menjadi waktu yang sempurna untuk mengekspresikan euforia yang melintas. Itu mengapa, salah satu cirinya adalah akan mengalami masalah pada jam tidurnya.
Biasanya di saat manic, mereka akan menghasilkan banyak karya. Di saat manic inilah mereka bisa mencicipi rasanya optimisme dan penuh energi. Beberapa orang terkenal yang berhasil membuat karya terbaik saat episode manic adalah Vincent van Gogh, Ludwig van Beethoven, Jimi Hendrix, dan Axl Rose.
Lalu bagaimana membedakan bipolar disorder dengan depresi atau euphoria biasa? Bukankah ini juga yang sering kita rasakan. Perbedaanya adalah pada pergantian emosi yang begitu cepat. Dan kedua emosi itu akan datang berdampingan. Sehingga sering kali mereka tidak bisa membuat keputusan apapun, bahkan untuk hal-hal sederhana yang dihadapi. Pada level inilah terlihat pergantian emosi telah memengaruhi kualitas hidup mereka.
Dan ketika tekanan sekitar (masalah pekerjaan, keluarga, interaksi sosial, atau asmara) mulai terasa menuntut terlalu banyak, ini akan membawa pengidap bipolar disorder pada gelapnya depresi yang panjang. Bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan hampir sebagian besar hidup mereka diisi dengan depresi.
Selalu berhadapan dengan depresi adalah hal yang meletihkan dalam menjalani hidup yang sudah begitu penuh warna-warni ini. Dan rasa letih ini pun juga akan dirasakan orang-orang di sekitar pengidap bipolar. Bagi yang tidak mengerti, pilihannya akan sangat mudah, menjauhi atau mengurangi interaksi dengan pengidap bipolar. Tapi bagi keluarga atau teman hidup, pilihannya tidak sesederhana itu.
Dari salah satu literatur yang saya kumpulkan, ada disebutkan pengidap bipolar memiliki kecendrungan untuk selalu gagal dalam menjalin asmara. Dan bagi yang sudah menikah, risiko bercerainya bisa 2 kali lebih tinggi dibanding yang tidak memiliki bipolar disorder. Fakta ini ditemukan pada masyarakat Amerika yang memang sudah lebih terbuka mengenai bipolar disorder.
Bagi pengidap bipolar disorder, kegagalan dalam menjalin hubungan adalah salah satu curam yang akan menyeret pada episode depresi yang dalam. Itu mengapa, pengertian akan bipolar disorder juga harus dimiliki oleh pasangan pengidap bipolar. Dengan begitu, pengidap bipolar bisa melalui episode-episode emosinya dengan seorang pasangan yang memang siap untuk membantu menaikkan mood-nya ketika depresi dan menormalkan energinya ketika manic.
Tapi pada kondisi tertentu, pengidap bipolar juga memiliki kecenderungan untuk berbohong. Berbohong untuk menjaga interaksi yang berhasil dibentuk atau berbohong untuk mengondisikan keadaan sesuai harapan. Namun kebohongan menjadi lingkaran setan bagi pengidap bipolar disorder. Sebab ini hanya akan menarik mereka pada ketakutan yang dalam. Hingga pada akhirnya hanya akan membuat mereka masuk dalam perilaku yang kurang bertanggung jawab, royal, impulsif, bahkan promiscuity.
Ini semacam penawar yang mereka pilih secara tidak sadar untuk keluar dari ketakutan akibat pilihan untuk berbohong. Sebab emosi yang terbangun ketika merasakan semua itu bagian dari periode manic-depressive yang sangat cepat berganti. Mereka seolah-olah merasa berhasil keluar dari periode depresi dengan menciptakan impulsifitas sehingga seolah tengah berada di emosi manic yang menyenangkan.
Melihat begitu peliknya perputaran dunia yang dihadapi pengidap bipolar disorder, adalah satu kebutuhan mutlak bagi mereka untuk meminta bantuan dari seorang psikiater. Sebab psikiater akan membantu mereka menemukan di mana titik awal kejatuhan yang kemudian menarik mereka ke dalam lorong gelap bersama ‘tikus-tikus’ pengerat.
Percayalah, bantuan dari ahli akan mampu melepaskan pengidap bipolar disorder dari roller coaster emosi yang memusingkan kepala dan membutakan warna kehidupan. Psikiater akan memberikan serangkaian pertanyaan yang dapat menggambarkan pengidap bipolar disorder telah memasuki tahap bipolar 1, 2, atau mungkin diantaranya. Mereka juga akan memberikan obat untuk membantu otak memproduksi hormon emosi dengan proporsional.
Paul Agusta adalah salah satu contoh nyata dari pengidap bipolar disorder yang pelan-pelan berhasil menjalani hidup dengan normal. Dia terus berusaha untuk bangkit, meski sulit tapi film At the Bottom of Everything menjadi salah satu episode nyata dalam hidupnya bahwa manic dan depresi bisa dikendalikan.
Takut terlalu panjang, toh saya juga bukan ahli yang tepat untuk menggambarkan bipolar disorder secara detail. Pada akhirnya saya hanya ingin menuliskan, bahwa saat ini, saya tengah meletakkan kedua tangan saya di dada. Meminta Sahabat Hidup saya mau membukakan hati seorang yang tengah mengalami roller coaster emosi agar mau mendapat bantuan dari psikiater.
Mungkin dulu tidak disadari, tapi saat saya pertama kali menulis mengenai bipolar disorder, saya bertanya pada psikolog yang saya wawancara apa yang seharusnya saya lakukan untuk menjadi pendamping yang baik pada wahana emosi tersebut. Dan apa yang dibisikkan psikolog itulah yang kemudian saya coba aplikasikan. Sampai pada akhirnya, saya tidak bisa menemaninya kembali.
Menemaninya ketika tiba-tiba Tuhan menghampirinya di sebuah ruang dalam kedinginan malam. “Tuhan ada di sini, menyentuh pundakku. I can feel it Pris. Kenapa dia mau menghampiriku ya.” Tulisnya ketika baru saja berkenal dan tak lama kemudian dia bercerita mengenai ketakutannya. Di saat itulah, saya menangkap dirinya terlalu terbebani oleh ‘kayu bakar’ yang kemudian saya tahu bernama bipolar disorder. Atau saat begitu banyak kegagalan terjadi dalam hitungan detik selama beberapa hari berturut-turut. “Apa ini karma ya? Atau emang aku lagi sial aja.” Pembicaraan singkat yang kemudian merubah segalanya karena periode manic itu datang dengan cepat, tanpa saya ketahui wujudnya.
Maka melalui tulisan ini, seperti dulu ketika waktu mempercayakan saya untuk menjadi penyemangat dan pelukis derai tawa pada wajah murungnya, saya berharap ini akan sedikit menyadarkan sudah waktunya untuk menemukan kejatuhan emosi pertama. Berhenti melelapkan diri pada rasa sakit dan menyisakan rasa sakit pada orang-orang yang ditemui. Sudah waktunya berhenti menaiki wahana emosi ini. Karena kayu bakar itu bukan untuk dibawa terus menerus, tapi untuk diletakkan di tanah pada setiap jalan yang dilalui. Dengan begitu, pundak akan kembali tegak dan membuat mata bisa membentuk garis tegak lurus yang jelas untuk menatap horizon.
Tidak mudah bagi saya untuk menuliskan pesan tulus ini, ada emosi yang ingin menghentak tapi ada juga rasa untuk menghapus kemurungan. Saya bahkan mengajak Sahabat Kehidupan saya untuk merumuskan semua ini. Dan pilihannya adalah ini, pembahasan lengkap mengenai bipolar. Semoga siapa saja yang mengalami ini bisa dengan sadar untuk keluar dari kekelaman rasa. Dan untuk siapa saja yang memiliki atau mengenal orang dengan ciri-ciri bipolar disorder, bisa dengan sadar menemani mereka keluar dari gelapnya gorong-gorong emosi.
Semoga ini juga yang akan ditangkap oleh seseorang yang pernah saya kenal dengan dekat. Bahwa ternyata es krim itu bukan entitas yang ada untuk kemudian dihabiskan dan dilupakan, melainkan realitas yang membantu kita mengartikan rasa, seperti ketulusan rasa.
Who r u?
Pure and clear.
Tulisan anda sama persis
dengan kehidupanku saat ini.
I just need a friends
I don’t know!!
what should i do?
Should i go to hell?
What can i get?
So many Quest in my mind.
May i live in a lonelyness?
Please give me a feedback!!
Please, please, please, please.
Hai Indra…terima kasih sudah berkunjung.
I’m just an ordinary girl…
How can I help you?Coba untuk tenang ya,coba utk tidak merasa kamu sendirian.Mungkin aku ngga kenal kamu,tapi aku rasa ngga ada yang kebetulan,aku mau aja utk kenal kamu.
Ayo coba untuk pelan-pelan mengurangi bebannya. Kamu pasti bisa, you just need to belief in yourself…
*saya membalasnya secepat yang saya bisa*
Powered by Telkomsel BlackBerry®
kamu penderita bipolar??
apakah kamu hanya memiliki sedikit teman??
apakah itu salah satu ciri penderita bipolar ya.
saya sudah di vonis dokter mengidap bipolar, tetapi saya masih belum percaya 100%
No, i can’t.
I just wanna be share.
So stuck in here.
God DaMn,
Missing my mum, family, and everything i had.
Why it can be so hard?
DamN….
Jantung brgerak cepat.
Breath…breath…breath…
Wish u here. Or someone else.
1 hari, 2 hari, 3 hari, 4 hari.
The door keept closed.
No friends.
Kenapa gw ga bisa bersosialisi?
Gw ini sama spt yg lain.
Mulut terasa terkunci.
Hiks…crying….crying.
Depth in my heart..
Am sick, g berguna.
Siapa sih gw?
Buat apa gw ad drmh ini?
Tell me more about yourself.Rumahmu di mana?Kau kangen sama ibu, keluarga dan apa yang kamu punya. Memang ibu di mana?Bukankah mau sdng di rumah skrg?
I’ll be able to help you…if you calm down…take a deep breath…dan pas dikeluarin coba untuk hembusin selepasnya dari mulut sambil bikin suara huh…you have to be calm..so you can share it with me…I know you can
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saya jadi bener-bener kepikiran….Apa saya harusnya email kamu aja ya Ndra…jadi kita bisa cerita-cerita
Am losed my soul.
+matjma010g06
(thats my phne number)
Convert into nokia phne keys.
Please. Please.
I just wanna share to somebody.
Please send me text message.
Please. Please.
Ak g tw km.
Bgtupun jg kamu gak tw ak.
Orang sudah menganggapku
Tidak becus!!
G punya otak.
Sombong.
Egois
Cuek dan g punya perasaan.
Apa mereka tw “semua itu sekeluarga dengan yang “jamak” itu.
Mgkin bawaan dr si “jamak” itu.
Ak tidak ingin spt ini.
Sifat2ku hanya kemunafikan.
Tak seperti yg dbayangkan.
Org menyangka ak hdup bhagia dengan ksendirianku drmh ini.
Punya keluarga yg sukses, bhagia dan berhasil.
Punya nama, jabatan, dgn sokongan sejumlah saudara.
Mereka tw it, tp tidak tw ak.
Malu, hina rasanya diri ini.
Ingin rasany seperti semut2 kecil yg mempunya keluarga.
Atw ingin jd seti2k debu yg tdk kasat mata?
Hidup/pun mati, toh g ada orang yang tw.
Sehari ini pintu tdak ku buka.
Knp dengan tulisan km?
Ada apa? Knp km ad dsini?
Cerita itu…
Email, password semua sudah ku rubah.
Hanya gara2 dia? Damn!!
Siapa si dia?
Dia yg menyakitiku. Yg tdk tw ak keberadaan si “jamak”.
Tw tp tdk mendengar hanya melihat.
Apa tuhan melarangku untk hdup layakny oranglain?
Wktu mnunjukan tepat jam 2.10 pagi.
Mata dan pikiranku mash terpusat dengan sempurna.
Dari yg hanya masker,
Suatu saat bisa dilepas.
Sampai dengan menunjukan jatidiriku siapa sbenarnya.
Dan akhir kembang mulai menguncup.
Ku kembali menutup diri dengan email+passwrd yg baru.
Personal_secret_only_i_knew
Sering ak menghina, mencerca. Bahkan menghakimi org lain.
Seolah ku menjadi raja di bumi ini.
Tapi apa? Hati ini sakit, ternodai oleh si jamak yg jahat.
Lagi2 tersebar ditulisan km.
Ak gak ngerti, knp tulisan km mesti ada?
Si tablet putihku telah lama habis.
U”re right butterflys
Ak hirup udara dengan nafas panjang.
Tapi ku berhenti ditengah2 nafasku. Dan sesudahny ak menulis tulisan ini.
Nafasku kn tetap terhenti.
Sampai ada yg menelpon dan dengan kesal tidak ada jawaban dariku.
Bahwa mereka tdak tau bahwa ak telah…………
Hai Indra…sorry…semalem aku ngga bisa balas komenmu…sepertinya kita email-an aja ya
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dear Butterfly,
Your blog entry has touched me deeply.
If you’re interested in watching the film, please email me and I will arrange a way for you to see it
Keep strong,
-paul
Ah senang sekali Paul mau berkunjung ke blog penuh curhat ini
saya hanya bisa menulis, karena itu talenta terbesar yang diberi “sutradara hidup” untuk saya lakoni. Maka bisanya cuman membantu lewat tulisan
Thriller film Paul yang bikin orang punya visualisasi baik mengenai Bipolar Disorder. You are very talented
Soal nonton filmnya, mau banget. Rencananya akan ada premiernya lagi kah? Premier versi DVD-nya, kalau ada aku mau nonton dan beli DVD-nya
karena itu film bagus buat ditonton, dianalisa, dan dikoleksi.
Keep the good work ya…makasih sudah mampir
pacar saya sepertinya mengalami bipolar disorder..
tapi gimana caranya supaya dia menyadari hal itu…???
saya perlu berbincang banyak dengan anda..
Hai Altanjeera…of course kita boleh bincang banyak…dengan segala kerendahan hati, saya akan mencoba membantu semampu yang saya bisa….karena sebenarnya saya bukan ahli bipolar
But hey, kadang kala kita hanya butuh cerita kan…semampu yang saya bisa, saya akan coba dengarkan. Aku email ya nanti…
saya selalu merasa depresi dan gejala” yg saya temukan dari bipolar disorder, sudah 6 bulan saya depresi dan saya mulai menarik diri di antara teman”, saya ingin sekali sembuh, bolehkah saya mengobrol dengan anda juga?
saya ingin keluar dari kondisi ini karena yg saya pikirkan hanyalah bunuh diri saja
Dearest Nana,
Please don’t said that. Coba kita hadapin sama-sama ya. Saat ini yang bisa saya lakukan, let’s pray together. Saya sebenarnya,bukanlah ahli yang bisa mendiagnosa kamu dengan tepat. Tapi dengan segala kerendahan hati, saya mau kok untuk mendengarkan cerita kamu. Kita pasti bisa sama-sama menemukan jalan keluarnya. Kamu ngga sendirian kok. I’ve got your email, aku email ya. I really want to hug you know. Be strong ya…bear hug
aku udah kirim message ke email mu…
..
tolong tanggapannya..
nice post, jd pengen nntn film At the Bottom of Everything
Terima kasih Dhianabellz. Saya juga penasaran bener dengan film ini…mudah-mudahan DVD-nya sudah bisa dijual secara bebas
Btw, terima kasih sudah mampir ya
dhianebellz it’s not my real name, just call me dhinda

sebenernya gw jg penasaran sm yg nm nya bipolar disorder, pas searching2 d google ktmu blog ini, tlsn ttg bipolar disordernya bgs sekan2 loe bs th dr sudut pandang penderita bipolar disorder
oiya blh tukeran link blognya?
penasaran gw sama bipolar disorder ini..
ini bisa dibilang penyakit kah?
nyoba cari2 di gugel banyak pembahasan tentang penyakit ini dan beberapa penyebabnya..
cuma yang gw bingung bukannya setiap orang pasti punya fase naek n turun yah?
terus kenapa ada yang disebut mengidap bipolar disorder?
tengkyu buat penjelasannya ^,^
@Dhinda : Saya pernah dekat dengan orang yang berada di lingkaran bipolar
Yuk kita tukeran link blog
@Tony Toni : mmm…sebenarnya aku buka ahli banget soal ini. Yup benar, setiap orang punya fase naik dan turun. Bedanya, orang bipolar punya kecenderungan untuk berlebihan memaknai emosi itu. Ketika dia depresi, dia bisa menyalahkan dirinya habis-habisan, merasa tidak layak hidup, dan kondisi terburuk adalah dia akan mengakhiri hidupnya.
Dan ketika dia manic atau merasa semangat berlebihan, dia akan melakukan sesuatu yang dia suka tanpa tahu kapan berhenti…melakukannya berlebihan…meski badannya sudah kecapean…dia akan terus melakukan apa yang dia suka karena dia ngga punya kesanggupan untuk menentukan batasan bagi dirinya sendiri.
Yup, orang bipolar cenderung tidak mengerti membuat batasan atas dua emosi yang paling lazim bagi kebanyakan orang karena dia merasa kebahagiaan atau kesedihan adalah emosi yang mengerogoti dirinya…hope that will help you to understand about this emotional disorder.
yeah gpp justru pengen tau tanggepan yg bukan formal kaya dari dokter gitu seh..hehe..
hmmm sori nanya lagi, apakah orang yang “moody” bisa dibilang bipolar disorder?
coz sebenernya gw punya sahabat yang dia kadang2 ceria banget kadang2 murung banget sampe ga mau diajak bicara. Gw pernah dikasi tau sama kakak nya dia emang pernah cerita punya trauma masa lalu yang keluarga nya pun ga tau apa yang nyebabin dia trauma.
saat gw tanya langsung ke sahabat gw dia jg ga mau cerita, dia takut kalo penilaian orang ke dia, terutama penilaian gw ke dia jd menurun.
gw anggepnya apa itu karena dia perfeksionis so dia ga mau berbagi cerita yang bisa nurunin “nilai” dia?
dan trauma ini, yang gw tau, yang nyebabin dia ga mau menjalin hubungan percintaan lagi selama hampir 6 tahun sampai sekarang.
and satu lagi masi tentang orang moody, jujur gw sendiri moody, dalam artian saat mood gw bagus gw bisa dapet inspirasi buat gambar n desain gw dengan cepet, begitu juga sebaliknya.
yang mau gw tanyain, apa gw juga punya kecenderungan ke penyakit seperti ini? apakah orang yang memiliki bipolar disorder dan dapat menghasilkan sebuah karya yg bagus (dalam episode manic) bisa dibilang penyakit? apa semua orang harus menjadi “normal” dan ga mampu menghasilkan karya yang bagus?
tengkyu buat kesabaran nanggepin pertanyaan gw.. hihi..
sebenarnya ada seperangkat tes untuk mengetahui apakah kita bipolar atau ngga. Dulu psikolog yang aku wawancara bilang, buku panduannya tebel banget. Karena ini termasuk emotional disorder jadi arsirannya bisa banyak. Tapi balik lagi, bipolar disorder itu berbeda dengan kondisi emosional lainnya karena dia benar-benar ada pada titik ekstrim dari manic dan depresi. Nah menurut gua sih, kalau lu moody tapi masih bisa beraktivitas sewajarnya ya itu terbilang moody biasa. Tapi kan ya itu spektrum emotional disorder itu luas jadi ngga bisa dibahas hanya dari satu gejala atau situasi.
van Gogh itu salah satu pelukis hebat yang mengidap bipolar dan beberapa dari karyanya malah muncul dari situasi manicnya dia. Karena ketika dia manic, dia merasa optimis, dia merasa bahagia, dia merasa percaya diri, itu yang bikin dia terus berkarya. Itu kenapa saat situasi manic ini dia akan kesulitan untuk berhenti bekerja sampai emosinya benar-benar habis dan masuk ke tahap depresi.
Menurut gua sih, sebagai orang awam, karya bagus atau engga itu pengaruhnya emosi. Apakah emosinya harus bahagia atau sedih, itu juga sangat tergantung. Karena ada pelukis kaya Mark Rothko itu lukisannya energinya gelap banget tapi orang tetep bisa merasakan sisi masterpiece dari karyanya dia…karena emosinya tersalur sempurna.
Jadi ngga bisa dibakuin sih menurut gua apakah karya bagus hasil dari sebuah situasi normal atau tidak
Mudah-mudah membantu ya
ohh pantesan mendalam bgt tlsn ttg bipolar disordernya
yuk tp gmn cr tuker link d blog y?
maklum msh newbie dlm mengotak atik blog hehe…
di settingnya dashboard wordpress, sebelah kiri ada pilihan links…kamu klik dan masukkan url blogku Dhi. Selamat mencoba
udh bs hehe x)
keep posting nice post y d blog mu
Hmmmm okay.. tengkyu yah penjelasannya…
saya merasa tidak mengenal diri sendiri sejak lulus SMA, banyak kejanggalan-kejanggalan yang saya rasakan. yang pasti kemampuan saya untuk bersosialisasi menjadi semakin berkurang.
rasa hina, tidak berharga dan malu terus melekat di hidup saya.
skrg saya tidak juga menyelesaikan skrips saya, ini smt kedua saya mengontrak skripsi. namu nketika gejala ini datang, dunia serasa kacau.
hidup saya semakin suram, dua kali hampir menyerah dan say “goodbye”, alhamduliah sampai saat ini saya bisa bertahan. tapi bagaimana besok?
Kamu mungkin lagi stuck aja. Dan ketika kamu bisa bertahan dengan alhamdulilah maka cobalah berjuang dengan alhamdulilah…Semoga membantu
hello there, butterfly
saya memiliki ibu mertua yg menderita bipolar disorder cukup ekstrim, dan walaupun saya mengerti ttg penyakitnya itu namun seringkali saya merasa lelah secara fisik dan pikiran dalam merawatnya. kadang saya sedih kenapa ini harus terjadi pada saya. bolehkah saya berbagi dengan kamu, agar rasa lelah ini terasa ringan, agar saya juga terinspirasi untuk semakin sabar dan telaten merawatnya. terima kasih.
tulisan kamu benar-benar saya baca pada waktu yg tepat. kamu menambah bara pada api semangatku yg semakin lama semakin padam. do email me if you don’t mind.
Hey there Kriww…of course I don’t mind…I’ll email you ya…be strong there ya…bear hug
Saya memiliki pasangan yang memiliki ciri2 BD..
Saya sangat menyayanginya..
Meskipun terkadang ragu karena sifatnya yang kerap kali menyakiti perasaan saya,ketika emosinya sedang tidak stabil..
Saya ingin membantunya..
Apa yang hrs saya lakukan?
Kepada pemilik blog ini “Butterfly Menikmati Dunia” mohon izin untuk berbagi informasi tentang Gangguan Bipolar di blog ini. Salam kenal untuk anda sekalian.
Teman-teman sekalian yang mengalami gangguan bipolar atau yang orang tercintanya mengalami bipolar, perkenankan saya berbagi informasi dengan anda.
Saya pernah mengalami gangguan bipolar selama bertahun-tahun. Alhamdulillah sekarang saya sudah pulih. Saya sudah menuliskan pengalaman bipolar saya dalam sebuah buku berjudul “Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah”. Saya juga sudah merilis ebook berjudul “Berdamai Dengan Bipolar”. Mungkin buku dan ebook ini bisa membantu anda.
Informasi selengkapnya silakan kunjungi blog saya : http://curhatkita.blogspot.com.
Dear Mas Tarjum,
Terima kasih sudah mampir…ah senang sekali menambah teman baru dan membantu saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman mengenai Bipolar Disorder. Oiya, bukunya sudah masuk ke toko buku kan ya? Mau punya euy….
Salam kenal Mas Tarjum
Saya slalu mrasa kesepian, gak PD, sedih, dan susah. Smua yg ditulis di blog Anda saya rasakan.
Saya bisa memukul, membanting, menendang ketika marah. Setelah itu bisa ketawa2 lg, aneh.
Saya ga bisa tidur stiap tau bsk mau brtemu orang. Saya mudah menangis, marah, dan impulsif akan banyak hal.
Inikah Bipolar? Sy baru tau ini sbh penyakit, saya kira slama ini krn ga ada yg prnah ajari sy utk pd n berani sedari sy kecil. Utk penderita Bipolar, sy butuh kalian
Dear Ami,
Be strong ya…if you want to share it with me, please do. Boleh minta emailmu?
Aku seorang bipolar….selama 5 tahun aku menderita menjalani hidup setiap hari rasanya beban yang menyiksa…
Tapi harus tetap berjuang setidaknya untuk tetap bernafas karena tidak jarang aku memikirkan untuk mengakhiri nyawaku sendiri..
Kini aku tidak begitu dihantui perasaan jamak yang kejam itu lagi, karena aku bertahan dan aku menjadi kuat. Kini hanya sebatas perubahan suasana hati yang masih dapat kukendalikan sendiri.. Meskipun aku harus divonis menderita beban ini seumur hidup, maka aku akan berdamai dengan penyakit istimewa yang Tuhan ciptakan ini dan menjalani hari-hari dengan menyerahkan seluruh hidupku kepadaNya….
Dan kamu adalah orang yang istimewa
Btw, nickname-nya bagus Cherry Blossom.
Terus semangat ya…karena hidup adalah perayaan
Salam kenal
Salam kenal juga…
Terimakasih untuk artikel anda yang benar2 tulus ini… saya harap semakin banyak orang2 seperti anda yang mau peduli pada orang2 menderita bipolar. Anda seorang normal namun tidak menghakimi, tidak seperti kebanyakan orang yang menganggap orang bipolar sama dengan orang gila yang perlu di hindari…terimakasih untuk pesan tulus anda ini…
Tuhan memberkati…
nice post…
satu tahun lalu sy divonis skizofrenia oleh dokter, tetapi beberapa hari kemudian dokter merelat vonis nya menjadi bipolar disorder.
terus terang saya kurang yakin dengan vonis dokter ini, adakah cara supaya saya dapat yakin 100% bahwa saya betul-betul menderita bipolar???
terima kasih
hei… saya sudah membalas emailmu. maaf saya lama membalasnya, sebab emailmu masuk ke spam dan saya baru mengeceknya hari ini, terima kasih
semoga selalu bahagia, kita semua
hai…gw pengen email untuk tanya2 ttg bipolar ini…bisa krm email kemana ya?hope u can help me….
hi salam kenal semua…ternyata saya tidak sendiri…selama ini saya bingung kenapa sikap saya seperti ini….rasanya hidup begitu berat..melewati setiap hari adl perjuangan…saya merasa bersalah krn sikap saya, tp saya tidak bisa mengontrolnya…saya berusaha tersenyum dan tenang tp didalam hati saya berteriak, menanggis,…rasanya lelah sekali….dan sering terlintas utk meninggalkan semua ini, untung saya msh bisa menahannya. baru beberapa bulan yg lalu sy divonis BD oleh spikiater, tp sy tidak yakin juga krn hampir sebagian besar yg saya alami adl didasar, dijurang, jarang sy merasa diatas….saya takut ketemu orang, tidak tau bgmn bersosialisasi, seakan2 kemampuan itu lenyap seketika…saya bingung harus berkomentar apa, harus bicara apa dgn org, yg saya inginkan hanya bersembunyi dalam kamar…saya butuh teman share dan syukkur sy ditunjukkan kesini, ….please email me….
@Kriw, Vivi, and Kukumalu : My dearest friends, please be patient to receive my email ya. I’ll promise I’ll help you guys the best i can and i’ll pray all of you will face your hardest time with love from God.
Padatnya jadwal kadang membuat aku tidak fokus untuk membaca pesan kalian dan aku ngga mau sekadar baca karena aku percaya tidak ada yang serba kebetulan. Sabar ya teman-teman aku akan sediakan waktu untuk kalian. God love you all
Please ada yg bisa recomend dokter yg berpenglaman untuk bipolar di Jakarta? need it utgently…please help
Dear kukumalu,
Berdasarkan rekomendasi Paul Agusta,sutradara film yg aku attach di posting ini, ada beberapa dokter yg ahli utk menangani Bipolar Disorder di Sanatorium Dharmawangsa.Paul juga merekomendasikan Dr. LS Chandra atau Prof. Sasanto Wibisono utk konsultasi.
Silahkan berkonsultasi ke sana ya and please be strong.Love you kukumalu.God love you more
Dear Butterfly menikmati dunia…thanks utk infonya.
Morning all…..saya divonis bipolar jan 2012 kmrn tp telah bertahun2 sy org moody dan cenderung blue bawaaannya Sy masih ragu apk sy bipolar krn yg saya rasakan lebih banyak depresinya spt : gelisah, bingung, panik, sedih, berpikiran tidak berguna, merasa bersalah, terlintas bbrp kali keinginan utk bunuh diri, males, capek luar biasa, males berinteraksi dengan orang, takut ke mall atau ketemu orang atau tempat yg rame, sakit kepala, mau marah, rasanya tergesa2…rasanya itu tanda2 depresi ya atau ada campuran hypomaniknya? masukan donk dari ciri2 diatas apk sy termasuk kategori bipolar atau hanya depresi? thanks all…ditunggu masuknnya
Hai. . .
Aku merasa sdg menderita bipolar disorder tapi entahlah aku masih merasa ragu.
Karena aku tidak mau memiliki penyakit ini, tapi kenyataan sepertinya berkata lain.
Selama 2 tahun ini aku benar2 tidak punya teman, padahal 2 tahun ini aku merasa sudah jatuh sampai ke dasar.
Aku bingung..
Hanya dengan membaca postingan ini, aku sekarang sdg menangis.
Aku sebenarnya kenapa??
Dearest Denita,
Sebenarnya untuk mengetahui apakah kita punya bipolar atau tidak adalah dengan menemui psikiater atau psikolog. Mereka punya kemampuan untuk mendiagnosa secara detail apa yang kamu alami.
Tapi berada pada situasi terpuruk memang tidak pernah mudah untuk dihadapi. Ini yang kemudian membuat kita tidak percaya dan kemudian menjauhi lingkungan serta orang-orang yang sebenarnya sayang banget sama kita.
Coba untuk percaya bahwa pasti ada banyak orang yang sayang sama kamu, cobalah untuk membuka diri dan biarkan orang-orang itu menolong kamu. Kamu ngga sendirian kok neng….trust me…you are not alone….
kamu menulis tentang bipolar dalem banget. seperti kamu pernah jdi bipolar!!!
ada acc twiter/fb ga?
kalau jdi diabetes seseorang sulit mengendalikan nafsu makan karena insulin sudah kacau, sedangkan bipolar sulit mengendalikan moodnya karena kartisolnya. itu yg gw baca dari brosing… yg jdi pertanyaan apakah bipolar bisa sembuh???
kebetulan saya memiliki ciri seorang bipolar jga…
@Subhin : Hai…thanks for coming by. Aku pernah dekat dengan orang yang hidup dengan bipolar. Sampai saat ini belum ada obatnya, sama seperti diabetes. Orang yang hidup dengan bipolar harus mengonsumsi obat untuk menstabilkan fungsi kortisol mereka yang bermasalah atau untuk membuat mereka lebih tenang secara emosi. Sebenarnya untuk penyakit-penyakit psikologis yang diperlukan adalah bagaimana membuat mereka tetap dapat diterima dan kualitas hidup mereka tetap baik. Untuk menjaga kualitas hidup tetap baik, ada beberapa penyakit yang butuh bantuan obat.