Monthly Archives: January 2011

All You Need Is Me

All You Need Is Me

Ini lagu super pede yang sangat menyentuh realita…dan saya lagi merasakan realitas itu menempel lekat pada dunia saya…Maka saya mengajak kita semua untuk menyanyikannya…

Silahkan dinyanyikan Bung Morrissey :D

 

Ini dia contekan liriknya :

You hiss and groan and you constantly moan
But you don’t ever go away
And that’s because
All you need is me

You roll your eyes up to the skies
Mock horrified
But you’re still here
All you need is me

There’s so much destruction
All over the world
And all you can do is
Complain about me

You bang your head against the wall
And say you’re sick of it all
Yet you remain
‘Cause all you need is me

And then you offer your one and only joke
And you ask me what will I be
When I grow up to be a man
Me? Nothing!

There’s a soft voice singing in your head
Who could this be?
I do believe it’s me

There’s a naked man standing, laughing in your dreams
You know who it is
But you don’t like what it means

There’s so much destruction
All over the world
And all you can do is
Complain about me

I was a small, fat child in a welfare house
There was only one thing I ever dreamed about
And fate has just
Handed it to me – whoopee

You don’t like me, but you love me
Either way you’re wrong
You’re gonna miss me when I’m gone
You’re gonna miss me when I’m gone

 

Khusus di bagian yang di-bold, saya akan menyanyikannya keras-keras…jangan takut untuk melakukan hal yang sama ya :D

 

Audisi “Ikan Salmon”

Audisi “Ikan Salmon”

Gambarnya mancing deh...abis yang nyelem kaga ada :D

Seorang teman laki-laki di kantor memberikan istilah yang pas ketika saya bercerita sms-sms apa saja yang belakangan sering saya terima, “Widih Priska lagi buka audisi ajang cari gandengan baru.” Saya yang mendengar hanya tertawa sambil menimpali, “Truk kali gandengan.”

Tapi memang teman saya benar, saya tengah mencari ikan salmon. Loh kok ikan salmon? Lagi-lagi ini hasil perbincangan dengan seorang teman, kali ini salah satu wartawan senior kesehatan. “Cari ikan salmon Pris.Udah mana bikin otak cerdas, dia juga gurih karena berlemak. Tapi lemaknya tetep bikin perut rata,karena lemaknya lemak sehat.” Hahahahahaha susah emang kalau pekerjaan sampai menyusup masuk ke sumsum tulang belakang.

Tapi lagi-lagi istilah itu menurut saya sangat pas. Sama pasnya dengan wejangan positif yang diberikan teman-teman saya ketika tahu saya kembali menjadi single. “Tenang Pris, there are so many fish in the sea. Pasang jaring dan tangkap yang banyak. Suka makan,ngga suka tinggalin.” Hahahahahaha.

Dan kali ini saya ngga mau pasang jaring. Karena kalau pasang jaring itu kelas ikan permukaan dan mengamini nasihat wartawan senior itu, saya ingin ikan laut dalam sekarang. Dengan sedikit aksi menyelam dan memilih mana yang sehat dan tidak.

Dan kini saya sedang berenang di laut. Baru melakukan beberapa tarikan nafas, ada beberapa yang menghampiri. Tahu rasanya seperti apa? MENYENANGKAN!!

Ada satu kali di tempat umum, pada segerombolan anak kuliahan laki-laki, ada salah satu yang terus menempelkan matanya pada saya.  Awalnya saya pikir itu hanya tatapan kebetulan. Ya mungkin kebetulan di belakang saya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Tapi saat saya duduk dan tanpa sengaja melihat ke arah diagonal tempat dia duduk, dia melemparkan senyum. Dan bodohnya saya kaget lalu spontan senyum balik…hahahahaha…Tiba-tiba saya merasakan aliran darah mengalir deras di jantung saya. Saya deg-degan.

Lucu juga kayanya sama anak kuliah, masih penuh semangat menggilai hidup. Dan masih naif jadi masih bisa kita arahkan…hahahaha no..no..I’m kidding. Hanya saja anak kuliah itu memang membuat saya percaya kalau kenapa ngga sama anak kuliahan…*dua tanduk muncul di kepala*

Pada sesi berenang berikutnya, saya bertemu ikan bergaya cuek tapi dengan aroma yang menggoda. Tidak ada yang menyambungkan kita sebenarnya, kecuali untuk saling memperolok satu sama lain. Diam-diam kami semakin sering menyapa walau sekadar memperolok yang kemudian diakhiri dengan gelak tawa yang membuat segar wajah. Dan (sepertinya) mulai menemukan kenyamanan untuk menghabiskan waktu berdua.

Lalu tanpa sengaja saya bertemu dengan ikan yang lainnya. Ikan yang ini geraknya cepat dan terbilang sangat ekspresif. Saya suka senyum-senyum sendiri bagaimana dia menyusupkan signal-signalnya. Kadang terasa kaya, “Permisi ada garam ngga? Ooo ngga ada ya, kalau nomer telepon ada…” Hahahahaha lucu. Saya sampai bilang ke teman saya, “Gila ternyata rumus pedekate kaya gini masih bisa bikin kita senyum-senyum ngga jelas ya. Berasa ’70an sih..tapi tetep bikin lu terbang hahahaha.” Ini dilengkapi dengan guguran bunga warna-warni di kepala (baca: Berbunga-bunga).

Dari semua ikan-ikan itu, saya merasakan nikmatnya berenang dilautan. Proses menyelamnya juga enak, saya tak perlu membawa jala-jala besi yang berat itu untuk kemudian ditebar selebar yang saya mampu. Setelah jaring-jaring terisi, ikan yang banyak sudah dalam kondisi mengelepar-gelepar. Ntah karena kehabisan oksigen atau karena ikan permukaan laut memang lebih rapuh di banding ikan laut dalam.

Yang terjadi pada sesi berenang laut dalam kali ini adalah saya menyusup masuk ke dalam laut. Saya sadar saya tengah memilih setiap ikan yang menghampiri. Ini membuat saya, mengamati mereka dengan jelas. Mulai dari bagaimana kekuatan mereka berenang, kemampuan mereka bernafas, sampai warna apa yang mereka pilih untuk menarik perhatian saya.

Audisi kali ini benar-benar menyenangkan. Karena ternyata lautan itu ngga kelam, justru sebaliknya menawarkan banyak sekali warna-warni ikan. Itu kenapa, saya sampai bilang sama Gadis Pendiam, “Ayo cepat keluar…banyak ikan sehat di lautan yang ngga sabaran buat mencuri perhatian kita.” Gadis Pendiam hanya ketawa-ketawa aja.

Tapi seneng juga liat dia bisa ketawa, setidaknya itu persiapan awal untuk menyelami lautan. Karena sebenarnya, saat kita tertawa, kita mengantarkan oksigen yang segar ke dalam otak. Inilah yang membuat sel-sel otak baru terproduksi dan sistem komunikasi otak kembali lancar. Itu kenapa tertawa lepas adalah ‘pil’ ajaib yang bikin saya keluar cepat dari episode berdarah-darah itu. Dan kini, saya masuk alam laut yang lebih segar untuk aura saya yang baru.

 

Gambar dari sini

Apakah Tuhan Sensitif Gender?

Apakah Tuhan Sensitif Gender?

Belakangan saya (kembali) mengubek-ubek teori feminisme dan teori konflik. Ada proyek yang saya sedang coba garap berkaitan dengan dua topik itu. Saya ajak diskusi beberapa teman saya.

Semuanya sepakat, hampir dalam setiap situasi genting (mau krisis ekonomi, bencana alam, sampai konflik atau perang) anak-anak dan perempuan selalu jadi subjek yang menanggung beban berat. Tapi lucunya, dalam proses penyelesaian situasi genting itu, perempuan jarang dilibatkan untuk memberikan suara. Loh kenapa harus dikasih suara?

Contohnya begini, dalam situasi konflik, perempuan dan anak-anak biasanya akan memikirkan cara bagaimana untuk menyelamatkan diri. Sedangkan laki-laki, umumnya karena tekanan sosial atau hormon bertarung untuk bertahan hidup yang keluar, akan memikirkan strategi untuk memenangkan konflik. Mereka lebih memikirkan strategi karena kekuatan mereka ada pada berpikir logis untuk mengeluarkan diri dari situasi berbahaya.

Akhirnya konflik akan semakin sulit untuk diselesaikan, karena yang perempuan dan anak-anak memikirkan cara untuk menyelamatkan kehidupan sedangkan laki-laki berpikir untuk menyelamatkan eksistensi. Keduanya sama-sama penting menurut saya dan sama-sama harus dibela.

Tapi karena dari zaman nabi-nabi, perang atau konflik memang selalu identik dengan pekerjaan laki-laki. Maksudnya, hanya laki-laki yang dibolehkan ikut campur, berstrategi, dan meraih kemenangan. Alhasil ketika kita bicara penyelesaian perang atau konflik yang akan duduk di meja perundingan adalah laki-laki.

Padahal, menurut teori manajemen konflik, perempuan adalah pencipta dialog yang mumpuni. Mengapa, karena perempuan punya living skill yang mempersuasi orang. Dan sifatnya yang lembut, dirasa sejalan dengan terminologi perdamaian.

Tapi kata teman saya yang sedang mengambil master di Hubungan Internasional, pada tahap perundingan rada susah untuk melibatkan perempuan, meskipun mereka mengamini perempuan jago menciptakan dialog. Buat ilmu hubungan internasional yang menitikberatkan pada kesuksesan diplomasi, kelembutan perempuan akan membuat meja perundingan sulit menemukan poin-poin rasional. Implementasinya jadi pada membentuk perdamaian saja, padahal salah satu tujuan perundingan juga harus berbicara pada ranah penegasan wilayah atau eksistensi komunitas. Itulah mengapa perempuan jarang dilibatkan dalam proses perundingan.

Bahkan menurut teman saya itu, beberapa teman diskusinya di master HI merasa memasukkan teori feminisme dalam diplomasi justru akan membuat rancu semuanya. Kalau pun mereka berniat menyinggung teori feminisme yang dipakai pun feminisme aliran lembut bukan yang radikal.

Lalu bagaimana saya sampai pada pertanyaan apakah Tuhan sensitif gender? Awalnya adalah karena disela-sela diskusi dengan salah satu sahabat saya, saya mengeluh kesakitan. Rasa sakit dari peristiwa biologis bulanan saya sebagai perempuan. Sebagai gambaran buat laki-laki, rasa sakitnya itu kaya kain yang diperas…sangat khas. Trus saya iseng berkomentar, “Damn nih menstruasi bikin hari-hari penuh emosi. Sebelum mens, bawaanya pengen nampol orang dan saat mens, bawaanya pengen melow-melow ngga jelas. Plus perutnya kaya kain basah yang diperas berkali-kali.”

Sahabat saya, Nida cuman bilang, “Iya menstruasi kaya syarat untuk punya anak tapi dengan proses yang tidak mengeenakan.” Lalu saya nyeletuk,”Iya kenapa menstruasi harus sakit ya…padahal mengeluarkan darah setiap bulan saja sepertinya sudah lebih dari cukup. Ah Tuhan ngga sensitif gender nih!” Saya dan Nida setelah itu hanya tertawa terbahak-bahak.

Tapi sampai di rumah, sebelum menutup mata untuk tidur, saya kembali terngiang ucapan saya sendiri. “Tuhan ngga sensitif gender.” Mmm…dalam proses memiliki anak, sebenarnya ada 2 pemain yang harus berperan aktif. Dan prosesnya sudah dimulai, jauh sebelum laki-laki dan perempuan bertemu di atas ranjang.

Perubahan anatomi dan fungsi tubuh, dialami laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki, suaranya membesar, kumisnya tumbuh, dan mengalami mimpi basah. Ada hal yang tidak enak dari semua ini? Dari kaca mata saya, sepertinya tidak. Silahkan kalau mau didebat :D

Sedangkan pada perempuan, mulai dari payudara yang terasa sakit dan menstruasi yang tak hanya bedarah-darah tapi juga sakit luar biasa. Ngga cuman itu, pas melahirkan juga, rasa sakitnya tetap ikut. Belum lagi masih harus melalui masa-masa nifas yang mengeluarkan bergumpal-gumpal darah.

Kalau diliat dari proporsi itu, rasanya lebih banyak bebannya kepada perempuan ketimbang laki-laki. Proporsinya lebih banyak nyamannya untuk laki-laki. Alkitab bilang, rasa sakit perempuan dalam proses berketurunan adalah hukuman atas kemampuan Hawa untuk mempersuasi Adam memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Sedangkan kaum Adam, dihukumnya cuman dengan mengolah tanah dengan susah payah sebagai cara untuk bertahan hidup. Bahasa sederhananya, laki-laki disuruh kerja mencari nafkah dengan titik keringat yang terakhir.

Nah kalau menurut Simone de Beauvoir, apa yang perempuan harus alami dengan segala perubahan hormon dan tubuhnya adalah panggung drama. Hah bagus bener istilahnya. Kenapa? Karena mulai dari menstruasi, menopause, dan pramenopause itu adalah rangkaian fenomenologis yang membuat perempaun kadang ngga mengerti apa yang terjadi dengan emosi serta tubuhnya.

Dan lagi-lagi, saya sulit menemukan apa yang menyenangkan dari rangkaian perjalanan dramaturgis itu. Saya bukan sedang menyangkal keberadaan saya sebagai perempuan, hanya bertanya frontal aja ke Sang Perancang Manusia, ada apa sih dibalik rasa sakit menstruasi? Maksudnya menstruasi akan tetap menjadi menstruasi kan, dengan atau tanpa rasa sakit? Yang penting ada proses luruhnya sel telur matang tak tak dibuahi. Kalau rasa sakit menstruasi itu sekadar mengingatkan perempuan bahwa mereka perempuan, kenapa harus dengan rasa sakit? Memiliki payudara sudah sangat mengingatkan kita, bahwa dalam kelas mamalia ya perempuan atau betina harus punya kelenjar susu untuk menyusui makanya disebut mamalia. Jadi kenapa harus ada rasa sakit menstruasi?

Saya jadi penasaran, ada ngga sih proses transformasi anak laki-laki menjadi laki-laki yang harus dilalui dengan rasa sakit? Kalau ada, apakah itu kadang kala membuat kalian merasa menyebalkan untuk menjadi laki-laki? Ayo dong di-sharing demi rasa penasaran saya, apakah Tuhan sensitif gender? :D

Pelukan Hangat untuk Gadis Pendiam

Pelukan Hangat untuk Gadis Pendiam

Selalu menarik bagaimana waktu mengantarkan kita pada realitas baru. Penuh misteri tapi sangat menyenangkan.

Awalnya saya berkenalan tidak sengaja dengan dia, panggil saja dia Gadis Pendiam. Perkenalannya sedikit dibumbui rasa kuatir, karena seseorang yang pernah begitu dekat di hati saya, tiba-tiba menghilang. Saya panik dan teringat bahwa dia punya agenda untuk bertemu Gadis Pendiam ini.

Tidak tahu bagaimana harus menyapanya, saya justru bertanya padanya apakah Gadis Pendiam jadi bertemu dengan dia. Ternyata in the last minute, dia membatalkan dan saya harus melangkahkan kaki menuju rumah tanpa jawaban yang jelas.

Perkenalan yang aneh memang, jadi tak heran jika kami berhenti mengirimkan SMS ketika itu. Sampai tiba-tiba, Gadis Pendiam mengirimkan SMS bercerita kisah cinta yang berakhir getir telah menimpanya. Saat saya membaca itu, ingin sekali memeluknya. Setidaknya itu yang saya inginkan ketika patah hati menghampiri. Dan saya, mendapatkan banyak sekali pelukan. Sahabat adalah sumber pelukan terhangat, setelah keluarga.

Dalam SMS-nya, Gadis Pendiam coba terdengar kuat walaupun hati terobek begitu dalam. Ah patah hati memang masa kegelapan yang menyesakkan, seribu topan badailah buat bab kurang ajar itu :D

Saya coba menawarkan semangat, berbagai pikiran positif saya bagikan untuk menyatukan kepingan dirinya yang terburai. Bahkan kalau saja malam itu saya tidak harus ke luar kota dan dia berada di Jakarta, saya mau bertemu dia sekadar mendengarkan apa yang terjadi, walaupun saya belum pernah melihat wajahnya. Entahlah saya terlalu sensitif ketika mendengar orang lain bersedih. Apalagi ketika mengetahui Gadis Pendiam memiliki sumber masalah yang sama, rasa senasib dan sepenanggungan itu muncul hahahahah…psikologis memang lebih kental dari logika kadang.

Saya berdoa untuk Gadis Pendiam, saya percaya ada hal indah akan menghampirinya setelah ini. Walaupun memang terminologi sakit dahulu untuk kemudian bersenang-senang, bukanlah hal yang mudah untuk dijalani tapi begitulah hidup terlalu sulit diatur agar berjalan sesuai kehendak kita (baca: terjadi sesuai harapan).

Saya panggil Gadis Pendiam sayang, seperti saya memanggil sahabat-sahabat saya. Saya selipkan kata I love you kepada Gadis Pendiam, seperti ketika saya mengekspresikan keberuntungan saya untuk memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Walaupun saya sempat berpikir, jangan-jangan ekspresi manis ini akan membuat dia kembali sedih mengingat segala cinta yang terhianati.

Mudah-mudahan tidak, toh panggilan sayang tak hanya dibuat untuk memanggil pacar kita saja kan? Dan ucapan I love you juga bukan hanya layak disampaikan pada kekasih hati saja. Saya percaya pada dasarnya, orang suka mendapatkan ekspresi kasih sayang dan panggilan serta ucapan I love you adalah simbol kasih sayang yang mudah dipahami siapa saja.

Saya hanya ingin membagikan energi, yang pernah saya terima dan kemudian membangkitkan saya dengan cepat. Saya hanya berharap Gadis Pendiam, perlahan menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan ketulusan cinta dan pengkhianatan bukanlah cara yang tepat untuk menghargai cinta. Berhentilah melukai hati dengan berpikir bahwa seharusnya kita mengubah keadaan untuk kenangan yang sudah terbangun. Karena sebenarnya dalam pengkhianatan selalu saja ada orang yang tak bisa menghadapi kenyataan dengan berani, itu mengapa mereka akan berlari untuk menemukan realitas baru yang singkat. Dan orang itu bukanlah kita. Bahwa setiap usaha dan rasa yang kita beri kemudian dihempaskan dalam ketakutan yang dijadikan pembenaran, maka bukan kita yang kehilangan nyali untuk menikmati cinta dengan utuh.

Jadi, biarkanlah dia menelusuk masuk pada kesemtaraan rasa yang penuh pijakan awal yang kasar. Dan hapuslah rasa dendam itu dari dalam hati serta pikiran, karena seharusnya dialah yang menyimpan rasa bersalah hingga ke sumsum tulang. Tentulah itu lebih menyakitkan dari kepahitan hati yang kita rasakan sebagai efek pengkhianatan. Yakinlah setiap kebenaran akan bertemu pintu kebahagiaan. Setiap ketulusan akan berarsir dengan kesempurnaan menghargai hidup.

Cepat bangkit ya Gadis Pendiam, ada banyak kegembiraan menanti. Raih tanganku dan mari menuju hari baru yang lebih baik. Percayalah, hari esok akan menyambut dirimu dengan matahari yang bersahabat, awan yang melindungi, dan angin yang menentramkan. I’ll do my best to get you there.

Sebuah pelukan hangat dan senyuman manis dari kupu-kupu liar yang merasa beruntung bertemu dengan Gadis Pendiam. Bahwa realitas mempertemukan kita dengan cara yang unik, biarkanlah toh hidup memang terlalu luar biasa untuk sekadar diisi dengan sesuatu yang datar.

Selamat menjadi lebih kuat Gadis Pendiam. Sebab ada yang bilang, sesuatu yang hampir saja membunuh kesadaran kita adalah sesuatu yang justru menguatkan. Jadi tersenyumlah dan bersiaplah untuk cinta yang lebih berani. I love you Gadis Pendiam :D

Lompatan Rasa dalam Pikiran

Lompatan Rasa dalam Pikiran

Weekend ini adalah 2 hari penuh gejolak rasa dalam pikiran saya. Semuanya ada, mau rasa marah, antipati, bahagia, sampai sedih menumpuk jadi satu. Awalnya saya ingin menuliskan satu-satu agar semua emosi tergambarkan dengan jelas. Buat saya, emosi itu penting untuk diekspresikan agar kita bisa melihat variasi pilihan hidup. Tapi setelah saya pikir kembali, terlalu lama menyimpan semua emosi itu nanti akan mengacaukan hari-hari saya. Jadi lebih baik tuntaskan sekarang demi sesuatu yang lebih besar.

  • Rasa Marah.

Ini sudah saya tuliskan pada posting dengan judul Kampret Sejati : Pervert! Ada amarah yang belum terlampiaskan dengan puas sepertinya. Kadang saat saya sedang diselipi dengan rasa dendam yang dalam, saya ingin menguliti ‘benda’ 7 sentimeter itu. Atau saya ingin juga menonjok para pelaku pelecahan seksual. Dorongan menonjok selalu datang mana kala saya merasa disakiti oleh orang lain.

Kepalan tangan adalah sisi maskulin saya yang amat besar dipengaruhi oleh keberadaan dua saudara laki-laki saya. Dulu abang saya ikut karate sebagai salah satu ekstrakulikulernya. Saya minta sama ibu saya untuk diikutkan, tapi katanya karate bukan olahraga perempuan. Dan saya pun merasa sebal menjadi perempuan ketika itu. Namun abang saya memberikan saya alternatif lain. Kadang-kadang, saat ibu tak ada, saya akan diajak latihan di warung yang juga ruang tamu kami ketika itu. Mulai dari menendang sampai menonjok. Latihan diam-diam ini terhenti karena saya pernah tanpa sengaja menendang kemaluan abang saya. Saat itu dia merasa tenaga saya semakin kuat dan rasanya tak elok melihat saudara perempuan satu-satunya menjadi sangat perkasa ketika melakukan aksi tendang dan menonjok.

Ya, saya marah terhadap H. Dan ingin rasanya melihat dirinya kesakitan karena sisi maskulinitas saya keluar dengan tegas. Saya sampai tak sabar untuk berhadapan dengan dia secara langsung. Melakukan apapun demi mempermalukan harga dirinya.

  • Antipati.

Awal bulan ini, saya menemukan sebuah blog yang dengan apik menggabungkan cerita menjadi lajang dan menikah. Saya langsung jatuh cinta dengan blog ini. Idenya menarik dan sangat kreatif. Meski dua status yang berbeda, tapi lajang dan menikah sama-sama memiliki kerepotannya sendiri. Dan saya pun menjadi rutin mengunjunginya. Sampai pada beberapa hari lalu, blog ini menampilkan postingan mengenai perselingkuhan.

Entah karena saya pernah secara sial menjadi bagian cerita berdarah-darah itu atau memang topik ceritanya tak pernah menarik buat saya dari dulu. Perselingkuhan buat saya tetap hal yang mengundang emosi. Dulu saat anggota keluarga saya yang sudah menikah mengalaminya, saya menyakini perceraian adalah keputusan yang harus diambil. Karena dalam pernikahan, buat saya perselingkuhan bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan untuk dipertahankan. Dan kadang saya mikir, mungkin lembaga-lembaga agama sudah mulai harus menganggap perceraian sebagai jalan keluar yang sah untuk dipilih. Apa para pemuka itu pernah membayangkan untuk berbagi ranjang dengan seseorang yang bergelut dengan ranjang yang lain. Saya sih tidak bisa. Itu mengapa, kalau mendengar ibu saya bercerita ada anggota keluarga yang diselingkuhi, saya akan selalu bilang, “Udah cerai. Ngapain menyusahkan hidup dengan berbagi hidup bersama orang yang tidak bisa menjaga komitmen.”

Dan ketika saya mengalami rasa sakitnya secara langsung, walaupun statusnya masih pacaran, tapi tetap saja perselingkuhan (sempat) mencuri kesadaran saya bahwa kepengecutan bukanlah sesuatu yang harus dimaklumi. Saya linglung dan limbung. Bahkan saya menjadi orang yang sangat saya benci, pemurung dan pesimis. Pengkhianatan memang kejam jendral.

Maka saat saya membaca postingan mengenai perselingkuhan di blog yang baru saja saya cintai, ada penolakan atau antipati besar-besaran ketika sang penulis (pelaku perselingkuhan) menyebutkan itu sesuatu yang mereka tidak rencanakan dan semuanya terasa amat sulit untuk ditolak. Pertemuannya mungkin saja tidak direncanakan atau terjadi begitu saja, tapi proses yang dijalani untuk kemudian disebut sebagai sebuah perselingkuhan, menurut saya adalah buah dari pilihan yang disadari.

Tapi entah kenapa, banyak pelaku perselingkuhan datang dengan suara yang sama. Ya itu, suara “Si Cupid tuh yang main panah asal-asalan. I never know it’s coming.” Saya bilang banyak, karena kecuali saya mendengarnya sendiri alasan tersebut dari seseorang yang (dulunya) begitu mencintai saya, saya juga mendengar beberapa teman yang juga pelaku perselingkuhan mengutarakan alasan yang sama. They speak in the same language.

Saya menjadi antipati karena saya melihat apabila orang yang sudah menikah bisa dengan nyaman bercerita mengenai perselingkuhan sebagai sesuatu yang terjadi tanpa batas nalar yang jelas, maka mengertilah. Semakin bisa dibayangkan ekspresi apa yang akan dikeluarkan jika perselingkuhan terjadi pada level pacaran, “Biasa lagi, masih pacaran ini.”

Tiba-tiba saya menjadi antipati terhadap sebutan komitmen atau ikatan. Semuanya menjadi sangat tipis untuk dipertahankan, bahkan pada level pernikahan sekali pun. Saya kemudian terpikir untuk kembali berhubungan tanpa status…

Saya sampai beberapa hari membaca postingan itu. Coba menemukan, di mana sih titik permisifnya. Iya semua orang berubah, termasuk perasaan orang. Tapi itu juga berlaku untuk janji dan sumpah dengan sejuta rayuan yang dulu diucapkan dengan mata yang berbinar-binar….Ah semua pertanyaan itu membuat saya jadi sinis memandang cinta. “T*i kucinglah sama cinta….ujung-ujungnya seberapa mampu lu memuaskan liang dan 2 biji yang menjuntai,” ucap saya kepada sahabat saya, Nida. Dia hanya tertawa-tawa mendengar saya berbicara seperti itu.

Sampai pada akhirnya, salah satu pembaca memberi komen pada postingan itu. Dia bilang, jangan bilang anti poligami kalau masih mencari pembenaran terhadap perselingkuhan. Saya tertawa penuh kebahagiaan ketika membaca itu. Iya, tuh dengerin buat semua pecinta perselingkuhan. Jangan ngerasa menjadi orang modern dengan berpikir poligami itu salah, kalau masih menikmati bermain api di atas ranjang perselingkuhan. Jadi, apakah komentar itu kembali membuat saya berhenti menjadi apatis…..kita lihat saja nanti….

  • Bahagia.

Kadang kala ada pekerjaan mudah yang mendatangkan banyak nominal pada rekening tabungan. Plus, pekerjaan itu adalah bagian dari yang kita sukai. Percayalah hal seperti ini ada, saya baru mengalaminya. Seorang teman menawarkan saya pekerjaan sederhana dengan digit angka yang belum pernah saya bayangkan. Saya bahagia luar biasa. Langsung terbayang ingin saya apakan digit angka itu.

Semuanya terjadi begitu cepat tapi dengan hasil yang menyakinkan, bagaimana mungkin saya tidak merasa bahagia dengan semua itu. Mari lengkapi kebahagiaan ini dengan terus menginjak bumi.

  • Sedih.

Tepat di hari saya mendapat kepastian proyek membahagiakan itu, ibu saya menelepon sambil sesenggukan. “Opung doli meninggal ‘de.” Opung doli adalah kakek dalam bahasa Batak. Beliau sebenarnya bukan kakek kandung saya, tapi dia sudah seperti kakek kandung saya. Buat ibu saya, dia adalah ayah angkatnya. Kakek kandung saya sendiri sudah meninggal saat saya masih SMA atau kuliah, saya lupa persisnya kapan. Dan semenjak itu, kakek angkat saya menjadi tempat yang selalu kami kunjungi ketika natalan atau tahun baru.

Beliau adalah orang yang sederhana dan sangat baik. Sederhana karena dia adalah seorang guru yang sangat dekat dengan murid-muridnya. Dia juga seorang pekerja keras yang kemudian berhasil mengantarkan dirinya dan opung boru (nenek) saya menjadi salah satu pengusaha kue kering tersukses di Jakarta. Meski sudah menjadi pengusaha sukses, beliau tetap mengajar dan kapur papan tulis yang dulu digunakannya sebagai cara untuk membekali masa depan murid-muridnya itu ternyata menjadi salah satu penyebab penyakitnya. Ada kerak di paru-parunya. Kapur dan rokok menjadi benda asing yang melemahkan organ pernapasannya.

Beberapa hari setelah natalan kemarin, kami mengunjunginya. Membawa makanan yang dia sukai. Masih lahap dia memakannya. Masih tersenyum menyambut kami meski sesekali dia harus menghirup oksigen dengan selang tipis di bawah hidung. Dan melihatnya terbaring dengan pakaian rapi dan sepatu mengkilap, saya tiba-tiba lupa bagaimana lemahnya dia ketika kerak paru-paru itu membuatnya kesulitan bernapas.

Saat berdiri di samping petinya dan melihat opung boru saya menangis luar biasa, saya hanya bisa terdiam. Saya coba mengingat apa pesan ketika kunjungan natal kemarin yang ternyata menjadi pertemuan terakhir kami. Tiba-tiba saya menitikkan air mata dan merasa tidak percaya, setelah ini saya tak akan punya kakek lagi. Dan kehilangan kakek 2 kali, bukanlah hal yang menyenangkan.

Walaupun sebenarnya bagi orang Batak, meninggal di usia tua dalam kondisi memiliki cucu adalah sebuah kesempurnaan hidup yang harus dirayakan dengan pesta, tapi tetap saja rasa duka itu tak bisa ditutupi. Beliau meninggal Jumat kemarin, Sabtu malam saya melihatnya terbaring kaku dengan muka yang tenang dalam peti putih, dan Minggu pagi adalah terakhir kali saya bisa merekam wajahnya dalam memori otak saya.

Di hari ini, anak-anaknya mendapatkan ulos sebagai perlambang kebahagiaan sekaligus kesedihan. Di hari ini juga anak-anak beserta cucunya diminta untuk menari sebagai lambang perpisahan yang membahagiakan. Sebab bagi orang Batak, meninggal dengan kondisi semua anak sudah menikah dan memiliki cucu berarti bukan untuk ditangisi. Bahkan kalau meninggal dengan kondisi memiliki cicit, itu artinya harus memotong kerbau sebagai lambang kemakmuran. Iya, kelahiran, pernikahan, dan kematian bagi orang Batak adalah sebuah perayaan.

Tapi di hari ini juga, kami semua tetap menitikkan air mata ketika menyadari salah satu orang baik tak lagi bersama kami mewujud. Mama saya terus saja menitikkan air mata setiap kali berdiri di samping petinya. Ayah angkatnya yang mencari-cari dia beberapa hari setelah Natalan kemarin, kini sudah tidak ada lagi. Ayah angkatnya yang hanya mau makan masakan khas Batak buatannya itu, kini sudah berpulang. Saya hanya bisa memegang tangan mama saya dan memegang pundak adik saya. Ya, kami kehilangan. Pulang dengan tenang ya Opung. Terima kasih untuk semua perhatiannya selama ini untuk kami yang sebenarnya bukanlah anak dan cucu kandungmu.

Ah dua hari yang penuh emosi. Dan semua emosi itu tak bisa saya rasakan penuh, sebab berganti dengan begitu cepat. Kadang pikiran saya terbakar akibat emosi marah yang saya rasakan atau menjadi sangat sinis pada saat saya teringat cerita dari blog tetangga itu. Dan dengan cepat pula saya merasa bahagia mendengar kabar digit angka pada rekening saya nantinya yang kemudian diganti dengan duka mendalam.

Emosi. Barometernya ternyata hanyalah pada pintu realitas mana yang kita masuki, duduk, untuk kemudian pergi dan berganti pada pintu realitas lainnya.