My Humble Pastor
03 Feb 2012 Leave a Comment
in agama, Bahagia, Berbagi, hidup, kepuasan diri, perubahan, Tuhan Tags: essence of life
This post is a bold statement on how lately I have become a church lover. It is because the church that my boyfriend and I usually go to is a very simple church with a personal touch from its Pastor.
International English Service (IES) South has a very humble Pastor, his name is Bernard Persichetti. I’ve never felt being preached out by his sermon. He always delivers the sermon in a casual way and with simple examples from our daily lives. He describes the problems, fears, or worries in a very personal way. It makes me believe that everybody has the same problem with me. He also builds confidence to face all that fears with great blessing from God.
One thing that I also like from his sermon is he always touches your need for human bond. I even got struck a few weeks ago, when he said that Christianity is about relationship between human with the Creator, instead of about a religion.
Friday The 13th
14 Jan 2012 Leave a Comment
in Bahagia, Emosional, hidup, kepuasan diri
Judulnya berbau-bau mistis ya? Hihihiii, tenang, saya bukan mau cerita soal setan atau pocong yang lagi nge-hit di bioskop-bioskop. Saya ingin menggambarkan betapa Jumat, 13012012, kemarin, saya menemukan banyak sekali keajaiban! Siap…siap…1…2…3…
Hari itu saya ke kantor dengan sedikit bergaya eksekutif muda, karena katanya saya dan 3 orang teman satu tim akan difoto untuk satu majalah francise bisnis yang dipunya kantor saya. Dengan kemeja pink, celana bahan 3/4, saya coba terlihat androgini dengan menambahkan suspender pada wardrobe baju kerja saya. Biar lebih pas lagi, saya kenakan wedges putih jadi tetap terasa elegan dengan nuansa kelaki-lakian. Lihat betapa detail saya menggambarkannya, ini menandakan, saya benar-benar semangat untuk jadi model ilustrasi majalah.
Jadi melangkahlah saya dengan percaya dirinya ke halte bus transjakarta terdekat. Sodorin uang Rp 5.000, si Mba penjaga karcis mengembalikan Rp 1.500 sambil memuji saya. Iya, dia memuji saya. Beuh saya ampe geer luar biasa. Saya membantin, ini bakal jadi hari yang menyenangkan.
Lalu berdirilah saya di pintu naik dan turunnya penumpang bus transjakarta yang tidak pernah aman itu, karena pintu otomatisnya selalu rusak sehingga dibiarkan menjadi tidak otomatis, alias terbuka selebar-lebarnya. Untuk membuang kejenuhan, saya memainkan smartphone…terus bermain…bermain dan tiba-tiba kaki saya mulai kerasa kesemutan. Lihat jam di layar informasi, damn, saya sudah berdiri 15 menit. Padahal dari saya datang sampai kerasa semutan, itu layar informasi bilangnya bus yang saya tunggu akan segera tiba di halte pemberhentian saya. Ah layar dusta dasar, saya mulai komplain dalam hati.
Maniak Sushi
07 Jan 2012 2 Comments
in hidup, katarsis, kepuasan diri, perayaan, tubuh
Sudah pernah nyushi? Itu loh makanan orang Jepang yang adalah ikan mentah dibungkus nasi pulen. Saya dulu beberapa kali diajakin makan sushi alias nyushi. Si Nida – sahabat saya, beberapa temen kantor saya, dan pacar saya adalah orang-orang yang suka makan sushi. Saya yang ketika itu masih cupu, hanya mencoba satu, setelah itu merasa eneg. Mengingat ada daging ikan mentah di dalamnya.
Nah kalau diinget-inget lagi, saya sebenarnya ngga punya trauma dengan ikan mentah. Karena sebenarnya, ada satu masakan batak yang juga dibuat tanpa membuat ikannya dimasak di atas api. Trus ikannya dimatenginnya gimana dong? Direndem di dalam jeruk yang katanya cuman tumbuh di tanah batak sana. Nama hidangan ini adalah Naniura. Ikannya ikan mas yang dipotong kecil-kecil dan dalam keadaan tak berduri.
Dasyatnya hidangan ini adalah bumbu yang digunakan hampir 10 macam. Bumbu-bumbu itu, ini seingat saya loh ya, kacang, kemiri, bawang putih, kencur, rias, jeruk, dan kawan-kawannya lah itu diolah dengan cara dioseng-oseng tanpa minyak atau direbus. Setelah itu semua bumbu dibalurin di ikan mas yang sudah direndam kurang lebih 3 jam di dalam jeruk tadi. Semua diaduk, didiamkan beberapa saat and voila jadilah ikan matang dengan sendirinya. Ini bukan magic atau sejenis rekayasa hidangan, tapi itulah yang terjadi, si ikan matang dengan sempurna.
Dan kalau kalian pernah makan di Lapo yang adalah rumah makan orang Batak, jarang sekali yang menyediakan naniura. Alasannya sederhana, ini hidangan bikinnya susah bisa sehari semalam kalau proses mengolah bumbu, merendam ikan, dan mencampurkan bumbu dikalkulasi dalam satuan waktu. Kata mama saya yang super jago bikin hidangan ini, naniura itu dulu hanya dimakan raja-raja karena bumbu yang digunakan banyak dan mahal. Nah beruntunglah saya yang punya mama yang amat jago bikin makanan raja ini.
Jadi kalau dilihat dari keakraban saya terhadap naniura, seharusnya dengan mudah saya jatuh cinta dengan si sushi, tapi entah kenapa saya butuh waktu untuk menyukainya. Sampai tiba-tiba saya ditraktir makan sushi sama salah satu teman kantor saya saat sedang rapat. Entah kenapa saya ngerasa ini ikan mentah enak banget, apalagi yang salmon sushi, segarnya luar biasa!!!
Well saya lebih prefer ikan ketimbang daging dan salmon adalah ikan enak yang sehat. Dia enak karena ada lemaknya, jadi gurih. Dia sehat karena lemaknya, lemak baik, alias omega-3 yang aman buat jantung dan otak. Tapi saya sedang tidak menulis artikel kesehatan ketika jatuh cinta sama sushi, dan saya menemukan kesegaran rasa yang bikin saya ketagihan.
Setelah ketagihan pertama, saya beberapa kali dalam seminggu makan sushi. Beruntungnya saya, pacar saya yang hobi makan itu pun menjadi semangat untuk menarik-narik saya ke rumah makan Jepang. Apalagi ketika saya selesai ujian di Depok dengan soal matematika yang kaya kampret itu, saya diajak makan sushi. Iya, Daniel membangga-banggakan rumah makan jepang yang di Depok ini karena murah banget semua menu-menunya. Kita makan sampe kenyang banget dan susah jalan hahahahaha.
Sekarang kadar kesukaan saya pada sushi luar biasa besar, sebab kemarin malam saya mimpi saya makan sushi dengan lahap hahahaha. Hari ini saya makan sushi sih, tapi kurang puas karena cuman satu sushi. Kita kira sushi yang kita pilih sama dengan sushi-sushi sebelumnya yang ada beberapa roll. Dan saya masih harus memuaskan hasrat akan mewujudkan mimpi makan sushi dengan lahap besok.
Ah lihatlah betapa lidah sebenarnya bisa lebih mengendalikan kita. Organ yang sebenarnya otot lentur ini bisa lebih berkuasa dari otak kita! Maka saya menyerah kalah pada lidah. Saya rela dijajah kembali oleh Jepang yang kali ini mengambil bentuk dalam makanan ikan mentah yang disisipi potongan sayuran atau mayonise yang dibungkus rapih oleh nasi lembut. Jadi, buat siapa saja yang ingin traktir saya sushi, ajakannya akan saya terima dengan wajah tersenyum
My Fascinating 2011
29 Dec 2011 6 Comments
in Bahagia, Doa, esai, harapan, hidup, kepuasan diri, perayaan, Tuhan
Mendekati akhir tahun, biasanya kita bakal sibuk nyari-nyari resolusi tahun baru. Saya sih sebenarnya termasuk orang yang nge-fans dengan resolusi tahun baru karena saya lebih suka membiarkan semuanya terjadi. Tugas saya hanya satu, menikmati semua prosesnya sampai ke sumsum tulang belakang.
Meski bukan orang yang meminta diri untuk mengumpulkan resolusi dalam poin-poin eksak, saya lebih prefer membuat tema umum dan itu pun dibuatnya pas ulang tahun yang jatuh pada bulan ke-11. Jadi ya bukan resolusi awal tahun juga jatuhnya. Tapi saya pernah membuat resolusi tahun baru, seperti bisa berenang atau menerbitkan buku. Hahahahahaha…yang berenang sampai sekarang hanya pernah diajarin 1 kali sama sahabat saya. Karena sahabat saya keburu melahirkan dan sekarang hobinya pulang kantor cepat karena rumahnya di pinggir Jakarta yang macetnya membuat berjam-jam waktu dihabiskan hanya duduk di dalam kendaraan pada sebuah mobil yang tak bergerak.
Nah untuk yang buku, still on progress. Dari mulai semangat, kurang semangat, sampai tetap untuk semangat udah saya rasain. Ada-ada aja dah ‘tantangannya’ tapi saya tetap berusaha untuk mewujudkan salah satu legenda pribadi saya itu. Persetan alam semesta mau bilang apa, saya akan mewujudkannya. keliatan kan keras kepala saya kalau lagi begini
Paradoks Kesadaran Pada Segelas Margarita
22 Dec 2011 Leave a Comment
in hidup, katarsis, kebebasan, tubuh
Jika ada survei mengenai kebiasaan mengonsumsi alkohol, saya akan menandai diri saya sebagai social drinker. Iya menikmati alkohol jika ada yang mengajak saja atau untuk alasan kehangatan mingle bersama teman-teman. Teman-teman yang saya pilih juga bisa dibilang yang itu-itu ajalah, orang-orang yang menurut saya cukup aman untuk diajak nenggak alkohol bareng. “Kalau gua mabok, minimal orang ini bisa bertanggung jawab untuk ‘menjaga’ gua,” itu definisi aman nenggak alkohol bareng yang saya bisikkan di dalam kepala saya.
Tak cuman teman sebenarnya, tempat saya menikmati minuman alkohol juga bisa dibilang ya itu-itu aja. Ada satu garden kafe di Jl.Wahid Hasyim yang berhasil membuat saya nyaman untuk duduk dan memesan minuman beralkohol, margarita. Iya saya hanya pesan itu karena hanya itu yang saya suka setelah wine.
Kenapa saya suka margarita? Minuman itu sebenarnya hanyalah campuran lemonade, tequila, dan sedikit triple sec yang kemudian di blender dengan es. Sebagai pemanis sekaligus statement of taste, di pinggir gelas margarita akan dibubuhkan garam. Nah garam ini yang menjadi daya tarik saya, jadi ada asam dan sedikit asin yang tercecap di bibir. Jika awal-awal saya hanya kuat minum 2 gelas, belakangan saya minimal minum 3 gelas
Tapi record tertinggi saya adalah sekitar 5-7 gelas hahahaha.

Yang ikut bermetamorfosis